✨ Sebaik-baiknya Kita Berencana, Tetap Rencana Allah yang Terbaik ✨
Minggu ini jadwalku sangat padat. Salah satunya karena ada perputaran jadwal yang ngebuat praktikum dalam seminggu seharusnya 3 atau 4 kali menjadi full 5 kali dari Senin-Jum'at. Benar-benar yang praktikum setiap hari, kuliah dari pagi sampai sore dan kadang baru sampai kost waktu maghrib.
Di minggu ini, Jum'at paginya aku harus menghadapi diskusi mata kuliah Praktikum Farmasi Fisik bersama dosen. Diskusi ini mirip ujian lisan, jadi persiapannya benar-benar harus matang. Di hari sebelumnya (kamis), pas banget aku habis Praktikum Mikrobiologi dan Parasitologi (yang seharusnya praktikum ini ga ketemu di Minggu yang sama). Kamis sore aku baru selesai semua kegiatan kuliah dan sampai di kos. Qadarullah rasanya badan pegal semua plus ngantuk banget, juga ngerasa badan agak demam. Tapi, mengingat besokannya masih ada diskusi yang akan aku hadapi, aku berusaha tenang dan berdoa supaya besok semuanya berjalan dengan lancar, termasuk persiapannya.
Kamis malam, setelah shalat Isya' (di Jember waktu Isya' cukup awal, sekitar pukul 18.35) aku memutuskan untuk tidur sebentar karena ngerasa ngantuk sekali dan kayaknya kalau dipakai belajar ga masuk. Rencananya, aku mau bangun sekitar pukul 10 malam untuk melanjutkan belajar karena persiapan materi diskusi baru sekitar 30%, jadi masih banyak yang harus aku pelajari. Aku pikir, “Tidur sebentar deh, biar lebih segar pas belajar nanti," Aku pun memasang alarm, ada sekitar 10 alarm dengan jarak waktu jam 22.00-23.00. Rasanya sudah benar-benar siap untuk bangun sesuai rencana.
Tapi ternyata… aku baru bangun ketika waktu subuh hampir tiba, tepat pukul 03.00. Rasanya campur aduk; kaget, bingung, dan paling dominan… kecewa. Bayangkan, diskusinya dimulai pukul 07.00 pagi, dan aku masih harus mempersiapkan materi 70% sisanya. Aku benar-benar kesal sama diriku sendiri. Semua rencana yang kususun matang-matang rasanya jadi berantakan.
Di satu sisi, aku ngerasa terlalu keras pada diriku sendiri, memaksa tubuh untuk terus bekerja/belajar tanpa jeda, padahal tubuh ini juga punya kapasitas, punya jam istirahat. Apalagi, seminggu ini sudah penuh dengan jadwal yang padat, dan sekuat apapun, aku terkadang lupa kalau tubuh ku juga butuh istirahat.
Pikiran “bagaimana kalau diskusinya nanti ga lancar karena persiapanku masih kurang?” terus menghantui.
Akhirnya, aku berusaha tenang, tarik napas, mencuci muka, mengambil air wudhu, menunaikan sholat malam, berdo'a, dan lanjut belajar sembari menunggu waktu subuh tiba. Sampai tepat pukul 5.30, aku sudah selesai mandi, membersihkan kost, dan bersiap sarapan, lalu berangkat ke kampus, rasanya begitu tergesah-gesah, bayangkan, bersiap dan melakukan hal lainnya sembari membaca materi. Di waktu-waktu ini aku ngerasa deg-degan belajarnya, terbayang bayang nanti diskusinya lancar atau tidak.
Namun, Allah Maha Baik… Ketika sedang dalam situasi itu, pas banget aku mau berangkat ke kampus, sekitar pukul 06.15 an, tiba-tiba muncul notifikasi di ponselku. Rupanya diskusi dengan dosen diundur lebih siang! Rasanya legaa bangett, ga berhenti ngucap Alhamdulillah. Bersyukur banget.. Artinya, aku punya banyak waktu untuk belajar, dan pasti sempat untuk menyelesaikan semua materi.
Di saat aku merasa begitu kecewa dengan diriku sendiri karena rencana tidak berjalan semestinya, Allah memberiku waktu tambahan yang benar-benar kubutuhkan. Dan hal-hal seperi ini tidak terjadi sekali dua kali dalam hidupku, hal hal seperti ini sering sekali terjadi. Selalu ada hikmah baik, dan setelahnya pasti aku ngerasa malu banget sama Allah, juga sama diriku sendiri yang sudah pesimis duluan, sudah kesal dan kecewa, padahal dibalik itu semua Allah punya rencana yang jauh lebih baik.
Pengalaman ini mengajarkanku beberapa hal penting. Pertama, sebesar apapun kita berusaha merencanakan sesuatu, tetap Allah yang memiliki kendali penuh. Sebaik apapun rencana kita, rencana Allah selalu yang terbaik. Terkadang, sesuatu yang terlihat baik di mata kita, belum tentu itu yang terbaik untuk diri kita. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216).
Aku juga jadi teringat di salah satu kajian yang aku ikuti, ustazah yang mengisi saat itu mengatakan bahwa kita ini sebagai hamba sering kali terlalu fokus memikirkan rencana demi rencana yang kita susun, fokus pada hasil akhirnya, fokus pada ekspektasi-ekspektasi kita, dan kita kebanyakan lupa bahwa Allah-lah yang sebaik-baiknya perencana, Allah yang paling tahu apa yang kita butuhkan dan pasti yang terbaik untuk kita. Terkadang kita merasa kecewa karena rencana kita seolah gagal, padahal Allah sedang mengarahkan kita ke jalan yang lebih baik. Apa yang kita anggap sebagai kegagalan sering kali adalah bentuk kasih sayang Allah, yang tahu kebutuhan kita yang terbaik bahkan lebih dari diri kita sendiri.
Kedua, aku belajar untuk lebih mengenal kapasitas diriku dan percaya terhadap apa yang sudah ditakdirkan Allah untukku, termasuk setiap ujian-Nya karena Allah pasti memberikan ujian karena Allah tahu kalau aku mampu melewatinya. "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286).
Dan terakhir, aku belajar untuk selalu berprasangka baik kepada Allah, atau husnuzan. Segala yang terjadi adalah bagian dari rencana Allah yang jauh lebih sempurna. Bahkan, ketika rencana-rencana kita terasa berantakan, kita harus selalu percaya bahwa Allah-lah sebaik-baiknya perencana. Selalu jaga prasangka baik kita, dan ingatlah bahwasannya Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya.
Semoga pengalaman ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk berprasangka baik atas segala ketentuan-Nya. Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya rencana kita, tetap rencana Allah yang paling sempurna.
Komentar
Posting Komentar